Powered By Blogger

Tuesday, November 21, 2006

Soe Hok Gie

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”(dikutip dari berbagai sumber)

"Soe Hok Gie"

Sunday, November 19, 2006

Mandalawangi - Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali kedalam ribaanmu,
dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
"tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar 'terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966 Soe Hok Gie

Saturday, November 18, 2006

Kisah teman

ya sepenggal kisah berjalan dalam keseharian
diantara riuh rendah nyanyian kehidupan
dalam tawa & lagu sedih ritual
sementara ia merangkai titian kesetiaan dalam ruang
dan ketika keadaan itu menghujamnya
membuat hijab dalam kesetiaan
yang akhirnya menjadi serpihan tak berarti
melayang dalam ruang hampa tanpa kesan
hingga biasnya mengusik mimipi-mimpi indah..

Litle child

ketika aku hanya terdiam...
menyaksikan sekepal tangan menengadah
mengharap sekeping mata uang
yang entah untuk apa mereka gunakan
bahkan untuk bermimpi dari kepingan itupun
masih bias dalam angan mereka
hingga senja menerangi mereka diantara gemerlapnya kehidupan
mencoba merangkai impian mereka walau bias terlihat
ya..hingga pagi sadarkan dari mimpi - mimpi indah tersebut
walaupun enggan tuk beranjak dari mimpi - mimpi itu

past

ya berhari engkau lewati
tiap saat aku datang
menatap layar yang penuh warna
berharap engkau ada
namun hanya baris baris kalimat yang semu tertera
biasnya hanya menjadi penghias ruang ruang kesunyian
tetapi ketika engkau ada .....sama seperti ketika aku menatapnya
baris - baris kalimat semu itu
ketidakpastian waktu menjadi hijab diantaranya